Showing posts with label Jurnalistik Cetak. Show all posts
Showing posts with label Jurnalistik Cetak. Show all posts

Sunday, January 25, 2009

Wilders Di Sidang!

Sutradara Film Fitna Menuai Konsekuensinya

Masih ingat dengan nama GEERT WILDERS? Ya, sutradara Film kontroversial ini akan mendapat konsekuensi di Pengadilan Banding Amsterdam (21/1). Pengadilan memerintahkan jaksa penuntut untuk membawa anggota parlemen Belanda itu ke meja hijau dengan dakwaan memicu kebencian dan diskriminasi kepada muslim.

Dengan melecehkan simbol-simbol Islam, dia juga menghina pemeluk agama tersebut” ujar panel hakim dalam keputusannya seperti dikutip AFP dalam Harian Radar Jogja. ”Dalam sistem demokrasi, pidato yang menebarkan kebencian bisa dikategorikan sebagai pelanggaran serius dan karena itu perlu diselesaikan secara hukum.”

Kasus tersebut harus berlanjut ke Pengadilan Banding Amsterdam setelah di pengadilan yang lebih rendah Wilders dianggap tak bersalah secara hukum berdasar asas kebebasan berekspresi. Namun masih belum jelas kapan persisnya sutradara film provokatif yang berjudul Fitna itu akan ditampil di sidang. Yang pasti, penyelidikan kasus penhinaan kepada Islam yang dilakukan Wilders tersebut akan segera dilakukan.

Wilders memicu kemarahan muslim di Belanda dan berbagai negara lain, termasuk Indonesia, karena berbagai ulahnya yang sangat Anti-Islam. Politikus Ultra-Kanan itu misalnya, pernah mengkampanyekan agar Al-Quran dicekal di Belanda karena dia nilai Fasis. Film Fitna dalam bahasa Sekjen PBB Ban Ki-moon, juga ”sangat ofensif anti-Islam”. (Radar Jogja, 22/1)

Pidato Obama Disensor di Tiongkok

Kebebasan Pers VS Ideologi

Tiongkok juga tak kebal terhadap pesona Barrack Obama. seperti halnya di belahan dunia lain, media negeri itu juga menjadikan pelantikan presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat sebagai primadona.

Namun, sekapitalis-kapitalisnya Tiongkok sekarang, mereka tetaplah negeri komunis. sensor kepada media tetap ketat diperlakukan. bagian-bagian yang menyebut "komunisme" atau "berseberangan pendapat"pun digunting. Pemerintah setempat beralasan, itu dilakukan untuk menjaga loyalitas rakyat pada ideologi komunisme.

Dalam pidato inaugurasinya, Obama memang beberapa kali menyebut komunisme dan berseberangan pendapat. salah satunya kalimat berikut ini :

"Mengajak generasi muda memerangi fasisme dan komunisme tak bisa hanya dengan mengerahkan misil dan tank-tank, melainkan dengan membangun aliansi dan mendorong keyakinan."

Ada pula kalimat seperti ini, "Bagi mereka yang merengkuh kekuasaan lewat korupsi atau menipu dan orang yang berseberangan pendapat hanya bungkam, berarti anda berada diposisi salah dalam sejarah, namun kami akan mengulurkan tangan bagi yang mau mengepalkan tangan (untuk melawan)."

Kalimat - kalimat diatas sama sekali tak ditemukan dalam laporan semua media Tiongkok. Televisi pemerintah, China Central Television, misalnya, meski menyangkan live pidato Obama setelah diambil sumpahnya, sampai pada ”kata sakti” tersebut, tayangan langsung terpotong dan kembali ke presenter di studio.

Sedangkan harian People’s Daily milik partai komunis Tiongkok tak menampilkan kata-kata komunis atau berseberangan pendapat dalam situs berita mereka.

Dua portal berita online tersohor di Tiongkok, Sina dan Sohu pun demikian. Meski situs – situs berita relatif lebih bebas ketimbang media cetak maupun televisi, tetap saja mereka tak steril dari jamahan sensor pemerintah.

Ini bukan tentang perspektif, namun tentang sesuatu yang menggugah rakyat Tiongkok lalu mengatakan, Ya, Itu benar” ujar Xiao Qiang, direktur China Internet Project di University of California, seperti dilansir Agence France Presse dalam Harian Radar Jogja pada Kamis, (22/1).

Namun sensor ketat itu tidak berlaku bagi media Tiongkok berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. China Daily, contohnya, tetap lolos dari sensor pemerintah meski menampilkan keseluruhan teks pidato Obama tanpa kurang satu huruf pun.

Kebebasan bersuara memang masih menjadi problem besar di Tiongkok. Komunisme adalah ideologi yang tak bisa diganggu gugat disana, kendati dalam praktik sehari-hari, Tiongkok juga memeluk erat kapitalisme. (Radar Jogja, 22/1)

Sunday, January 18, 2009

Indehoy di Warnet

Alih Fungsi Warnet di Kalangan Anak Muda

YOGYAKARTA, raft282.blogspot.com – Para pengusaha warung internet (warnet) di Yogyakarta, awalnya tentu tak ada niatan untuk menjadikan tempat usahanya digunakan untuk kegiatan maksiat, Sabtu (3/1).

Kondisi warnet yang tertutup dan jauh dari kontrol, memungkinkan para pengunjung untuk melakukan hal di luar kendali. Entah untuk menonton film biru atau bahkan sampai melakukan tindakan asusila.

Sepasang muda – mudi tampak sedang asyik browsing internet di sebuah bilik ruangan sebuah warnet bercat merah di kawasan Seturan – Yogyakarta. Di ruangan warnet tersebut terdapat 20 bilik berukuran sekitar 1,5 X 1,5 meter yang dipisahkan dengan sekat berbahan triplek yang di plistur.

Sepasang muda – mudi itu nampak tidak menghiraukan pengunjung lain yang berjalan melewati biliknya. Keduanya memang dapat terlihat oleh pengunjung lain karena bilik tersebut mempunya tinggi yang hanya sebatas pundak orang dewasa saja.

“Kebetulan mampir ke warnet ini, saya sering kesini karena tempatnya nyaman dan aksesnya cepat” ujar Banu yang berstatus pelajar sebuah SMA Negeri di kota Yogyakarta ini ketika ditanya tentang frekuensi ke warnet dalam seminggunya.

Remaja yang berusia 18 tahun itu mengatakan, ia memilih ke warnet karena kebetulan sekolah juga masih libur karena tahun baru dan memilih ke warnet bersama pacarnya Nita (17) yang juga masih satu sekolah dengannya.

“Mending ke warnet, daripada jalan – jalan ke mall malah habis banyak, lagian kalau ke warnet juga sekalian cek Friendster, Facebook, atau buka blog” ujar banu lagi. Kedua pelajar itu mengaku menjalin asrama selama 1 tahun itu mengatakan, hanya bermain internet saja, tanpa ada niat untuk melakukan perbuatan- perbuatan yang tidak senonoh
“Takut mas, soalnya warnet sekarang sudah banyak yang dipasangi CCTV, nanti malah ketahuan, trus gambarnya kesebar di internet malah repot” ujar Banu sembari malu – malu.

Pengakuan yang berbeda disampaikan oleh Tania (20), bukan nama sebenarnya, seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta yang ditemui di warnet tetangga yang masih satu daerah di Seturan. Tania mengungkapkan serunya pengalaman bercumbu di warnet. Pada awalnya ia tidak pernah berpikir untuk melakukan kegiatan tersebut, tetapi karena ada kesempatan ia pun berani bercumbu di bilik warnet.

“Saya kalo pacaran, ya disini, di warnet, karena tempatnya tertutup dan biliknya tinggi, tempatnya juga nyaman. Jadi tidak ketauhan” ujar Tania. Bahkan, mahasiswi ini itupun hafal lokasi – lokasi warnet yang biasa dijadikan ajang pacaran.

“Bahkan saya pernah nginep di warnet bersama pacar, karena sehabis dugem pasti subuh dan pintu kost sudah dikunci, daripada di hotel. Kalau di warnet semalam paling habis 10 ribu itupun ada diskon karena ada jam Happy Hour” ujar Tania.

Tania juga bercerita, pernah sekali waktu ia ketauhan sedang bermesraan di warnet oleh operator warnet. “Saya pernah ketauhan sekali, kami langsung pergi dari warnet itu dan tidak pernah datang lagi, saya lihat operator yang memergoki saya, malah dia yang malu – malu” ujarnya lagi.

‘’
Saya kalo pacaran, ya disini, di warnet, karena tempatnya tertutup dan biliknya tinggi, tempatnya juga nyaman. Jadi tidak ketauhan” ujar Tania.

Fenomena pacaran di warnet memang bukan hal baru di Yogyakarta. Banyak situs – situs yang memajang bukti – bukti video adegan mesum di warnet. Menurut Sluw (22), seorang penjaga warnet di kawasan Seturan, ia seringkali mengetahui pengunjung tempat warnetnya bekerja sedang asik memadu kasih.

“Sering, mas. Biasanya tidak sengaja, karena saya sedang mengantarkan minuman gratis karena aksesnya telah 2 jam lebih, ya paling pura – pura nggak tahu, namun setelah itu pasti mereka pergi” ujar Sluw yang telah 1 tahun bekerja menjadi operator warnet.

Sluw mengungkapkan, desain bilik yang tinggi dan tertutup memang sangat memungkinkan pengunjung untuk berbuat sesukanya didalam bilik tersebut. Beberapa warnet di kawasan Seturan memang sering dianggap sangat nyaman dan aman untuk berbuat mesum.

Dhani (25), pemilik dari sebuah warnet mengaku awal ia membuka usaha warnet tidak ada niatan untuk menjadikan tempat usahanya ini dijadikan tempat mesum. “Kami mempunyai bilik yang tinggi ini memang dibuat sesuai dengan konsep yaitu menyajikan tempat yang nyaman dan privasi, jadi tidak ada sama sekali niatan untuk jadi tempat mesum” ujar Dhani yang baru 1 tahun membuka usahanya ini.

Menurut Dhani, selama ini ia telah memberikan peringatan kepada karyawannya untuk tidak memberikan akses bagi para pengujung untuk berbuat mesum salah satunya dengan tidak memberikan share link video – video porno di warnetnya, dan ia juga memberikan minuman ringan gratis kepada para pengunjungnya yang mengakses lebih dari 2 jam, menurutnya program ini ditujukan agar operator warnet bisa me–monitor para pengunjungnya agar tidak berbuat hal – hal yang tidak diinginkan, tidak hanya berbuat mesum namun terhindar dari pencurian Hardware dan lain – lain.

“Saya tidak terlalu suka dengan warnet yang menggunakan CCTV, karena itu telah melanggar konsep warnet yang kami buat, karena itu kami menyiasatinya dengan menaruh PC diatas bilik sehingga dapat kami pantau” ujarnya lagi.

Menurut Dhani pengawasan dalam hal ini sangat diperlukan, kesadaran dari pemilik warnet dan pengunjung itu sendiri adalah yang terpenting, perlu adanya peran serta dari masyarakat.
Persoalannya saat ini belum ada regulasi yang jelas secara nasional yang mengatur izin usaha mendirikan warnet, ia juga mengaku bahwa perizinan warnet sampai saat ini masih longgar, hal ini juga menjadi faktor tumbuh pesatnya warnet – warnet yang memberikan keleluasaan bagi para oknum –oknum yang menyimpangkan fungsi dari warnet. ● Purnama Yudha / 153020235 ●

Demam Futsal di Yogyakarta

Olahraga yang menjadi gaya hidup perkotaan

YOGYAKARTA, raft282.blogspot.com - Futsal di kota Yogyakarta, saat ini telah menjadi salah satu olahraga favorit terutama bagi anak muda, tidak hanya untuk kaum laki – laki, kaum perempuan pun turut menyukai olahraga ini, Minggu (11/1). Awalnya, hanya ada beberapa tempat futsal di kota Yogyakarta. Salah satu pelopor tempat futsal yang komersil adalah Next, terletak di Jalan Urip Sumohardjo, Yogyakarta.

Tempat lain yang sering digunakan oleh para penggemar futsal, dengan biaya sewa lapangan yang lebih murah berkisar antara Rp. 80 rb – Rp. 125 rb yaitu di Centro Futsal Seturan, gelanggang olahraga mahasiswa di beberapa kampus seperti AMP dan UGM, lapangan indoor Kridosono serta SMU Bhinneka. Sekarang hampir di sekitar kampus seputaran kota Yogyakarta berdiri tempat futsal.

Futsal sendiri diciptakan di Montevideo, Uruguay, pada tahun 1930 oleh Juan Carlos Ceriani. Keunikan Futsal mendapat perhatian di seluruh Amerika Selatan, terutama di Brasil. Ketrampilan yang dikembangkan dalam permainan ini dapat dilihat dalam gaya terkenal dunia yang diperlihatkan pemain-pemain Brasil di lapangan berukuran biasa. Pele, bintang terkenal Brasil, contohnya, mengembangkan bakatnya di Futsal.

Di kota Yogyakarta, futsal mulai marak sejak awal tahun 2007. Berawal dari hobi, terbentuk komunitas penggemar futsal, meningkat menjadi suatu gaya hidup, kini futsal telah menjadi olahraga yang popular di kalangan anak muda.

Komunitas karyawan XL Centre di bilangan Jalan Mangkubumi, Jakarta, adalah salah satu komunitas futsal yang rutin bermain di sela sela kesibukan bekerja. Ardi, (24) Operator Call Centre XL tersebut, mengaku rutin bermain futsal tiap 1 minggu sekali di hari minggu.

“Awalnya kami bermain futsal hanya sedikit anggotanya, namun semakin hari banyak dari karyawan juga ikut gabung bermain futsal, bahkan sekarang di kantor kami tiap divisi sudah mempunyai tim masing –masing, jadi kami rutin untuk bertanding” ujarnya

Yang menarik dari komunitas futsal ini adalah, yang biasa datang tidak hanya dari karyawan pria, namun juga dari karyawan wanitanya. “Yang cowok main, yang cewek jadi supporternya, jadi nggak bete, mas. Asyik jadinya, main sambil ada yang meneriaki” ujar Ardi yang mengaku sudah dari tahun 2007 bermain futsal.

Supporter aktif dari komunitas ini, tak lain adalah Andriyani (27), mengaku ia memang termasuk penggemar sepakbola, namun karena ia takut untuk menonton pertandingan bola di stadion, ia pun beralih menonton pertandingan futsal. “Lebih enak nonton futsal, aman dan pastinya seru. Makin seru kalau ada pertandingan persahabatan dengan divisi lain, kami makin kenceng teriaknya” ujarnya bersemangat. Ini menjadi salah satu bukti bahwa olahraga ini lambat laun bisa menjadi gaya hidup. Tidak hanya dinikmati oleh kaum pria namun juga kaum perempuan.

Saya pasti nonton kalau teman – teman main futsal, saya senang dengan olahraga ini, walaupun tidak main, tapi futsal memberikan manfaat ganda, sehat dan senang” ujar Andri yang mengaku ingin sekali bermain futsal.

Alfian (22), seorang penggemar futsal, ia mengaku rutin bermain futsal 1 kali dalam seminggu bersama teman – teman satu kampusnya. “Awalnya saya main futsal tahun 2007, namun karena biaya sewa lapangan pada saat itu masih mahal jadi kami jarang bermain rutin. Beda kalau sekarang, sudah banyak pilihan. Jadi kami main biasanya menyesuaikan budget, maklum anak kost” ujar Alfian yang juga mahasiswa Akutansi STIE YKPN ini.


‘’

Yang cowok main, yang cewek jadi supporternya, jadi nggak bete, mas. Asyik jadinya, main sambil ada yang meneriaki” ujar Ardi yang mengaku sudah dari tahun 2007 bermain futsal.


Alfian mengungkapkan selama ia bermain futsal banyak perkembangan yang terjadi dalam olahraga yang satu ini, meningkatnya animo masyarakat khususnya anak muda dalam bermain futsal lebih dikarenakan keterbatasan arena olahraga yang ada di Yogyakarta, imbasnya arena futsal yang sesuai standar banyak bermunculan, memiliki harga sewa yang mahal. Dengan harga sewa tersebut, tidak semua orang bisa bermain disana. Lapangan olahraga dikomersilkan, inilah sisi lain dari ketersediaan sarana di Yogyakarta.

Futsal sebagai gaya hidup juga dikatakan Taufikkurrahman (29), pelatih atlit di Asrama PPLP ini menuturkan, futsal tidak hanya sebatas pada olahraga saja. “kalau sekarang banyak orang yang bermain futsal karena kebutuhan akan olahraga, masyarakat sudah sadar akan arti pentingnya olahraga bagi tubuh mereka” ujar Taufik yang juga mengaku sering bermain futsal namun tidak rutin.

Namun menurutnya ada satu hal yang disayangkan dari meningkatnya animo masyarakat tentang olahraga yang satu ini. Taufik menuturukan, melihat maraknya bangunan lapangan futsal, sayangnya sebagian besar dibangun di dalam ruang. Padahal, bila disangkut pautkan pada ketersediaan RTH (Ruang terbuka Hijau) di Yogyakarta, “Seharusnya lapangan sepak bola menjadi penyumbang RTH. Tapi, karena lapangan futsal banyak dibangun di ruang tertutup, hal itu menjadi lain soal” ujarnya.

Masih menurut Taufik, lapangan olahraga merupakan komponen utama RTH kota atau paru-paru kota yang membuat kota menjadi sehat. “Ketersediaan RTH berupa lapangan olahraga merupakan sarana olahraga yang efektif bagi anak – anak hingga orang dewasa, pas sekali dengan motto memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat” ujar Taufik yang telah melatih berbagai atlit di Asrama PPLP.

Baik Taufik, Ardi, Alfian dan Andriyani, sepakat mengharapkan budaya berolahraga terutama futsal terus ditingkatkan, perkembangan futsal yang memasuki gaya hidup perkotaan seharusnya lebih didukung peran pemerintah untuk menyediakan sarana murah dan nyaman untuk berolahraga. ● Purnama Yudha / 153020235 ●


Thursday, January 01, 2009

Uang di Gunting Setengah Hingga uang nominal 50 Milliar

Museum Uang di Purbalingga, Jawa Tengah

Purbalingga, raft282.blogspot.com - Mendekati tahun baru, saya dan keluarga mengunjungi museum uang di purbalingga. Senin (29/12). bertempat di owabong reptile . Masih dalam satu area, museum uang ini diresmikan tanggal 18 desember 2008 - masih fresh kan A.K.A baru banget...

Satu hal yang saya ingat tentang uang (pelajaran waktu SD...) Uang bukanlah sekedar alat tukar, tetapi juga cermin dari perkembangan puncak - puncak peradaban suatu bangsa. Dengan mencermati perkembangan mata uang, kita dapat mengetahui bagaimana kondisi sebuah bangsa dan seluruh perjalanannya...(wew, ingatannya cukup tajam..hehehe...)

Nah, dari definisi tadi muncul rasa penasaran, rasa penasaran itulah yang membuat insting jurnalis saya berjalan mencari tahu 5w +1H dari museum uang purbalingga ini. setelah mewawancari beberapa guide di sana, saya tahu gagasan untuk mendirikan Museum Uang Purbalingga didasarkan atas pemikiran untuk menyelamatkan dan melestarikan benda - benda bersejarah. adalah Drs. H. Triyono Budi sasongko, M.Si (Bupati Purbalingga 2 Periode 2000 - 2010) yang memiliki ide dan gagasan untuk mewujudkan dalam sebuah museum yang kemudian diberi nama Museum Uang Purbalingga.

Visi dari Museum Uang Purbalingga :
Melestarikan Benda - Benda kuno Khsuusnya mata uang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa

Misi dari Museum uang Purbalingga :
Menjaga benda - benda bersejarah yang bernilai tinggi dari kepunahan
Sebagai sarana pendidikan dan pembeljaran tentang perkembangan sejarah dan budaya
Mendukung daya tarik wisata, utamanya di kawasan wilayah purbalingga.


Banyak sekali mata uang - mata uang yang ditampilkan di Museum ini a.l : Uang jaman Kerajaan,Mata uang jaman perdagangan belanda (VOC), Mata Uang Masa Pendudukan Jepang, Uang Pemerintahan Belanda periode 1946 - 1949, Hingga Uang Kertas Bank Indonesia seri 2000 - 2008. dan ada juga mata uang dari Benua Asia, Afrika, Eropa, Amerika, hingga Asutralia. Disana tidak hanya menampilkan mata uang saja, namun juga ada koleksi perangko seri luar negeri, foto - foto purbalingga Tempoe Doeloe,Miniatur Perhau layar phinisi, Miniatur Perajurit Keraton, dan berbagai macam buku - buku tentang Indonesia dan dunia.

Gunting Syafruddin Prawiranegara

Ada beberapa hal yang menarik disana, ada Uang yang berbentuk setengah, ya, setengah. pada masa Mr. Syafruddin Prawira negara, Menteri Keuangan RI Serikat pada saati itu, dengan surat keputusan Menkeu Pemerintah RIS (Kabinet Hatta) nomor PU/1 Tanggal 20 Maret 1950 mengeluarkan kebijakan dramatis yaitu pengguntingan uang De Javasche Bank, hindia Belanda dan NICA (Buka buku SD anda lagi..hahaha..).
Peristiwa yang dikenal dengan "Gunting Syafruddin Prawiranegara" itu menyatakan bahwa guntingan kertas bagian kanan dapat ditukar dengan Obligasi Negara bunga 3 % per tahun, sedangkan untuk guntingan uang kertas bagian kiri dinyatakan masih berlaku sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai 50 % dari nilai semula, hal ini berlaku sampaitanggal 8 april 1950 pukul 18.00. Tindakan ini ternyata berhasil dalam mengurangi Jumlah Uang yang beredar.


Ada juga Mata Uang dari negara Slovenia dengan nilai Nominal 50.000.000.000 (Wew....) menurut guide di Museum ini, saat itu republik Slovenia mengalami krisis, sehingga nilai mata uang disana sangat anjlok, harga barang - barang melonjak tinggi sehingga pemerintah slovenia pada saat itu menerbitkan mata uang dengan nilai nominal yang katanya paling tinggi di dunia. nominal ini memang paling tinggi untuk sebuah mata uang kertas yang pernah diterbitkan di dunia.

Perjalanan saya dan keluarga kali ini sangat bermanfaat dimana pendirian museum ini mengajak kita untuk lebih mengahrgai uang, keberadaan museum uang Purbalingga diharapkan dapat berjalan dalam mendorong sektor pariwisata di purbalingga. Museum uang ini juga sebagai wahana pendidikan bagi masyarakat di samping merupakan wahana rekreasi.

~ Do Work Hard Without Self Interset TO Enhance the Will-Being Of the World ~




Friday, December 05, 2008

LULUSAN KOMUNIKASI HARUS BERANI, BRUTAL DAN GILA

prospek ilmu komunikasi ke depan dalam dunia kerja

YOGYAKARTA, raft282.blogspot.com – Saat ini lulusan perguruan tinggi bidang ilmu komunikasi sangat dibutuhkan di dunia kerja. Peluang untuk memasuki dunia kerja sangat besar namun lulusan Komunikasi selain harus mempunyai kemampuan, diharapkan juga mempunyai sifat berani, brutal dan gila.

Hal itu disampaikan oleh Freddy Febrison (23), pendiri Dapur Ngebul Advertising saat menjadi pembicara dalam talkshow “Prospek Ilmu Komunikasi Ke Depan” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) UPN “V” Yogyakarta pada Selasa (25/11) sebagai bagian dalam acara Communication Expo 2008 di Fisip UPN”V” Yogyakarta. “Berani dalam artian kita harus berani berimajinasi, brutal yaitu harus berani berimajinasi luas tanpa terpengaruh suatu aturan, dan gila dalam artian imajinasi kita harus baru dan lain dari yang lain”, tegas Freddy yang juga salah satu alumnus UPN “V” Yogyakarta angkatan 2002.

Sebagai lulusan komunikasi yang bergerak dibidang advertising atau periklanan Freddy sudah malang melintang di Yogyakarta, Dapur Ngebul Advertising yang diusungnya sudah mulai dikenal oleh masyarakat. “Saya mulai mendirikan Dapur Ngebul dari mulai duduk di banguku kuliah, berawal dari kumpul – kumpul bersama teman – teman kemudian tercetuslah ide untuk membuat Dapur Ngebul”, ujarnya saat ditanya dari mana ide membuat Dapur Ngebul muncul seusai acara selesai.

Hal senada juga disampaikan oleh Sihar Hariandja (27), selaku Redaktur Pelaksana News anchor Jogja TV yang juga menjadi pembicara dalam acara tersebut. “Lulusan Komunikasi harus mempunyai minat, keingintahuan yang tinggi, dan memiliki kreativitas yang tinggi”, Ujar mas Har, panggilan akrabnya yang juga lulusan dari UPN “V” Yogyakarta angkatan 1999. Menurutnya Mahasiswa komunikasi juga memerlukan pengalaman di luar perkuliahan. “Saya selama masa aktif kuliah, nyambi kerja di Radio 68H dan beberapa tempat lain, untuk mengasah insting jurnalistik saya, namun harus bisa membagi waktu agar kita tidak keteteran”, tegasnya lagi.

PR atau Public Relation, juga merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Ilmu Komunikasi yang ada di UPN”V” Yogyakarta selain Jurnalistik dan Advertising. Tak jauh berbeda dengan Sihar Hariandja, Vera Leonidya (21), selaku PR Hotel Santika Yogyakarta juga berkomentar. “PR adalah wartawannya perusahaan tempat kita bekerja” ujar Vera yang juga menjadi pembicara dalam acara talkshow tersebut. Selama ini kita sebagai masyarakat umum mengetahui bahwa Brand Image dari seorang PR adalah bersih, rapi, cantik, dll. Namun baginya semua itu adalah keliru. “Bersih, rapi, cantik atau ganteng itu adalah salah satu penunjang, namun seorang PR yang baik dia harus mempunyai 3B yaitu Brain, Beauty, dan Behavior” tandas Vera yang juga lulusan dari UPN “V” Yogyakarta angkatan 2004.

Tidak Senang Hitung – hitungan

Menurut Freddy, Ilmu yang didapat dimasa kuliah hanya merupakan basic atau tingkatan dasar, Untuk mengasah dan memperdalamnya dibutuhkan pengalaman di luar kuliah. Saat ditemui seusai acara, Freddy dengan panjang lebar bercerita “Saya tertarik masuk komunikasi karena, tidak senang hitung- hitungan, namun karena dari situlah saya menemukan jati diri saya” ujarnya bersemangat.

Berbeda dengan Freddy, Vera menceritakan awalnya justru ia bercita – cita menjadi dosen. “Saya bercita – cita menjadi dosen, namun jadi tertarik menjadi PR karena melihat para senior – senior yang keren – keren, dan bisa banyak relasi dengan media”, ujarnya. Hal ini berbeda sekali dengan Sihar Hariandja, ia mengaku bahwa masuk jurusan komunikasi karena di iming – imingi oleh teman – temannya. “Saya masuk komunikasi karena di Imingi – imingi oleh teman – teman, katanya di UPN ada lapangan futsalnya”, ujarnya sambil tertawa lebar.

UPN “Veteran” Yogyakarta adalah salah satu perguruan tinggi terkemuka di Yogyakarta yang membuka prodi Komunikasi. Penjurusannya yaitu bidang Jurnalistik, Public Relation, Advertising. Menitikberatkan agar Mahasiswa memiliki kemampuan dalam bidang – bidang tersebut diatas, dan agar mampu memasuki dan bersaing dalam dunia kerja yang sesungguhnya. Dari ketiga pembicara dalam talkshow diatas sudah membuktikan bahwa mahasiswa lulusan UPN”V” Yogyakarta mampu memasuki dan bersaing di dunia kerja.

Saturday, November 29, 2008

Menjelang Lebaran OWABONG Buat Wahana Baru

PURBALINGGA, raft282.blogspot.com – Jumlah pengunjung di Objek Wisata Air Bojongsari (Owabong), Purbalingga, mengalami peningkatan yang signifikan, Kamis (2/10). Pada H+1 lebaran data pengunjung sudah menembus angka 3700 orang, suatu prestasi yang patut dicontoh keberhasilan suatu objek wisata lokal dalam meningkatkan pendapatan daerah.

Hal tersebut dijelaskan oleh Agus Dwiyantoro (30), selaku Manager Humas Owabong saat ditemui di sela – sela kesibukannya. “Pada tahun 2006 kemarin saja pengunjung mencapai 22 ribu orang, diharapkan tahun ini pengunjung menembus angka 30 ribu orang”, ujarnya. Terjadi peningkatan pengunjung tiap tahun di Owabong yang signifikan, hal ini tidak lepas dari inovasi manajement dalam memperbaharui wahana - wahana Owabong.

“Kami telah mempersiapkan wahana – wahana baru sejak 6 bulan sebelum lebaran. Dari 6 wahana yang telah ada kami tambahkan wahana baru antara lain, teater 4 dimensi, flying fox, futsal field, Go-Kart, ATV (All Terrain Vehicle), kolam air hangat”, tambah Agus yang juga lulusan STIE API Yogyakarta ini. Objek wisata yang bertempat di Kelurahan Bojongsari Purbalingga, Jawa Tengah ini berdiri sejak tahun 2005. Awalnya merupakan proyek PEMDA Purbalingga, modal awal dibiayai oleh Pemerintah Daerah Purbalingga dengan satu tujuan yaitu untuk meningkatkan pendapatan daerah. “Selama ini purbalingga hanya terkenal sebagai daerah produksi knalpot, maka dari itu kami mencoba membuat suatu objek wisata yang belum ada di Purbalingga khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya”, ujar Agus lagi.

Terinspirasi Billabong


Menurut Agus, Owabong berasal dari singkatan Objek Wisata Bojongsari, terinspirasi dari Billabong Australia. Saat ditanya dari sekian banyak pengunjung Owabong adakah yang berasal dari daerah, Agus pun dengan panjang lebar berkomentar “Paling banyak justru dari luar daerah Purbalingga, seperti Purwokerto, Cilacap, Kebumen,dll. Banyak juga yang dari luar Jawa Tengah seperti dari Jakarta, Bandung, Banten, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya”, tandasnya.

Pengunjung dari luar daerah pun banyak yang tertarik oleh Owabong, kebanyakan karena saran dari teman, kerabat atau relasi. Seperti Zulfikar (52) yang berasal dari Cilacap memang sengaja menyempatkan diri bersama keluarganya yang baru datang dari Bandung. “Tiap tahun kami memang suka berkunjung ke tempat – tempat rekreasi, tahun ini saya dan keluarga memilih Owabong karena ada saran dari keluarga yang di Bandung, dan juga dekat dengan rumah yang di Cilacap serta harga tiket yang tidak terlalu mahal,” ujar Zulfikar.


Tak jauh berbeda dengan Zulfikar, Rini (42) warga asal Cilacap yang berdomisili di Jakarta, memutuskan berekreasi bersama keluarga ke Owabong “selain dekat dengan Cilacap, harga tiketnya juga masih terjangkau. Fasilitas dan keamanannya juga terjamin”, ujar Rini yang berprofesi sebagai Guru SMU di Jakarta.

Owabong saat pertama kali dibuka, belum terlalu banyak wahana yang ditampilkan selain Kolam renang Olympic Standar Internasional, yang menjadi andalannya adalah Waterboom yang mempunyai tinggi 60 m, tertinggi di Jawa Tengah. Para pengunjung merasa puas oleh Servis yang dilakukan Owabong. “Saya kira bagus, karena rekreasi sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk melepas lelah, dan Owabong bisa mengakomodir kebutuhan masyarakat tersebut. Apalagi wahana – wahana yang ditampilkan sangat unik, kreatif, bermanfaat bagi tubuh dan kesehatan seperti kolam air hangat, Futsal Field, basket,dll. Senang bisa membawa keluarga rekreasi ke Owabong”, tambah Rini lagi. Inovasi yang tiada henti dan filosofi Melawan Arus menjadi modal bagi Owabong Purbalingga selain untuk Go-Internasional juga meningkatkan pendapatan daerah dan meningkatkan taraf hidup masyarakat purbalingga.

Artikel Sejenis

Kata Adalah Senjata Copyright © 2008 by raft282 Template by Dicas Blogger
 

Kata adalah Senjata © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO