Friday, April 10, 2009
Kenapa masih ada yg golput?
Monday, April 06, 2009
Saatnya Gunakan Suara Anda!
Pemilu tinggal 3 hari lagi... gk sabar saya untuk mencontreng, pilihan sudah ada ditangan.. Insya Allah saya yakin dengan pilihan saya kali ini..
"Sungguh suatu sebuah dilema" ujar salah seorang teman. saat kita golput, berarti tetap mempertahankan status quo pemerintahan, namun saat kita ingin memilih kita tidak mengetahui wajah - wajah hingga kredibilitas para caleg -caleg tersebut.
saya bilang "Lu yang Kuper", pemilu kali ini menuntut kita untuk lebih proaktif dalam mencari informasi tentang caleg tersebut, kita tidak hanya bisa duduk diam dan terpaku saja bengong melihat wajah - wajah mereka menghiasi seluruh penjuru kota dari baliho hingga spanduk, para caleg tersbut sudah melkasanakan tugas mengenalkan wajah mereka kepada rakyat, nah tinggal rakyat yang harusnya proaktif dalam menyeleksi satu persatu para caleg tersebut.
banyak sekali karya - karya para caleg dalam mengambil hati dan simpati dari masyarakat, ini beberapa spanduk dan baliho caleg, mungkin sudah beberapa dari anda melihat ini.. yah, untuk sekedar me-review aja koq.. (Ketawa juga boleh...diambil dari Caleg Indonesia.com)
Caleg james Bond
Serasa Bintang Pelem
Anaknya Bintang pelem, bokapnya CalegYah yang jelas, para caleg - caleg tersebut diatas sudah mengenalkan wajah mereka kepada rakyat, tinggal kita sebagai rakyat yang harus proaktif dalam mencari jalur kemana suara kita akan di gunakan...
Golput itu suatu tindakan yang sia - sia.Jangan Golput Teman, Parpol ada 44! kurang banyak?! calegnya ada? 7 X44x2lbr kertas suara DPRD dan DPRRI = Contreng!
Wednesday, March 18, 2009
Korupsi,Corruption,Corruptio
Munculnya KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi tidak dengan sendirinya memberikan jalan keluar, atas berbagai tindakan korupsi. Tingkat keefektifan dari kinerja KPK selama dipimpin oleh Antasari Azhar memang terlihat hasilnya. Rupanya janji Presiden SBY tidak hanya sekedar menjadi hidangan pembuka diawal menu, tapi memang menjadi Lauk itu sendiri dalam makanan utama.
Dari awal terbentuknya KPK, saya termasuk orang yang pesimis. Alasannya, sistem pemilihan orang – orang KPK itu sendiri terbuka untuk kemungkinan dikorupsi, orang – orang yang terpilih pun punya kemungkinan melakukan korupsi. Kekuasaannya besar, bisa menjadi pedang berate dua. Ia bisa menjadi penekan yang ampuh bagi berhasilnya pemberantasan, tapi, juga menjadi faktor penekan untuk posisi tawar, dalam bagi – bagi hasil korupsi. Namun sampai saat ini (Mudah-mudahan selamanya..) pesimistis saya belum terbukti.
Malahan yang terlihat kebakaran jenggot, justru para Anggota Dewan yang Terhormat (Capital Letter untuk mereka, Kan Katanya Terhormat!). Kita masih ingat dalam kasus Al Amin Nur Nasution, setelah tertangkapnya suami dari penyanyi dangdut Kristina tersebut, kita masih ingat bagaimana KPK mengacak-acak kantor para Dewan yang Terhormat.
Kwiek Kian Gie pernah menyatakan, kalau saja tigapuluh persen uang korupsi bisa dikembalikan, Indonesia tak perlu meminjam dana luar negeri. Jika benar pernyataan itu, betapa besarnya tingkat korupsi di negeri ini, sebagaimana ditujukan dalam ranking di dunia, Indonesia sebagai Negara terkorup. Indonesia menempati urutan ke-empat top-ranking. Bukan saja pelaku itu terdiri atas kaum birokrat, penguasa politik, pelaku ekonomi, tapi perilaku korup bisa dilakukan oleh siapa saja.
Polisi di jalan raya bisa melakukan korupsi, ketua RT di ruang tamunya biasa melakukannya. Pejabat Negara yang berwenang melakukan ijin, potensial sebagai koruptor. Semua bisa dilakukan di sebuah negeri yang memposisikan megara secara struktural sebagai sentral kekuasaan. Bahkan, pada situasi keseharian, seorang pegawai rendahan, bisa melakukan korupsi. Karena frustasi pada situasi, dan lemahnya mentalitas. Korupsi menjadi salah satu cara atau alat, untuk melipatgandakan imbalan secara tidak wajar.
“Korupsi telah menjadi Budaya” Banyak yang tidak setuju terhadap pernyataan itu, saya pun setuju, justru korupsi itu adalah sebuah penyakit epidemi atau epidemic disease yang pemberantasannya harus melibatkan semua pihak. Namun apalah artinya jika ketidak-setujuan mereka (termasuk ketidak-setujuan saya) tidak dibarengi dengan mentalitas dan moralitas yang kuat dari para individu, sebagaimana keberanian mereka dalam mengembalikan gratifikasi ke KPK...
Tifatul sembiring, Ketua Umum PKS. Dari partai yang mengklaim dirinya sebagai partai yang anti korupsi dan memang sampai sejauh ini terbukti, dalam acara Suara Anda Spesial di Metro TV beberapa hari kemarin menyatakan ada yang salah dalam sistem di Indonesia, sistem inilah yang menyebabkan rusaknya moral dan mentalitas dari para anggota DPR. Karena itu pengkaderan dari partai sangat berpengaruh terhadap mentalitas dan moralitas dari para anggota DPR. Hal senada juga disampaikan oleh Hadi Utomo, Ketua Umum dari Partai Demokrat, yang juga setuju bahwa ada sistem yang salah dalam negeri ini. Yah apapun itu, korupsi memang menjadi salah satu penyebab stroke-nya Indonesia itu, ibarat lemak yang menyumbat di pembuluh darah.
Sunardian dalam Anonim, My Hero! Berkata Soeharto, adalah tokoh yang terbaik, dan berjasa besar dalam menjadikan bangsa ini dirusak oleh perilaku korup
Sunday, January 25, 2009
Pidato Obama Disensor di Tiongkok
Kebebasan Pers VS Ideologi
Tiongkok juga tak kebal terhadap pesona Barrack Obama. seperti halnya di belahan dunia lain, media negeri itu juga menjadikan pelantikan presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat sebagai primadona.
Namun, sekapitalis-kapitalisnya Tiongkok sekarang, mereka tetaplah negeri komunis. sensor kepada media tetap ketat diperlakukan. bagian-bagian yang menyebut "komunisme" atau "berseberangan pendapat"pun digunting. Pemerintah setempat beralasan, itu dilakukan untuk menjaga loyalitas rakyat pada ideologi komunisme.
Dalam pidato inaugurasinya, Obama memang beberapa kali menyebut komunisme dan berseberangan pendapat. salah satunya kalimat berikut ini :
"Mengajak generasi muda memerangi fasisme dan komunisme tak bisa hanya dengan mengerahkan misil dan tank-tank, melainkan dengan membangun aliansi dan mendorong keyakinan."
Ada pula kalimat seperti ini, "Bagi mereka yang merengkuh kekuasaan lewat korupsi atau menipu dan orang yang berseberangan pendapat hanya bungkam, berarti anda berada diposisi salah dalam sejarah, namun kami akan mengulurkan tangan bagi yang mau mengepalkan tangan (untuk melawan)."
Kalimat - kalimat diatas sama sekali tak ditemukan dalam laporan semua media Tiongkok. Televisi pemerintah, China Central Television, misalnya, meski menyangkan live pidato Obama setelah diambil sumpahnya, sampai pada ”kata sakti” tersebut, tayangan langsung terpotong dan kembali ke presenter di studio.
Sedangkan harian People’s Daily milik partai komunis Tiongkok tak menampilkan kata-kata komunis atau berseberangan pendapat dalam situs berita mereka.
Dua portal berita online tersohor di Tiongkok, Sina dan Sohu pun demikian. Meski situs – situs berita relatif lebih bebas ketimbang media cetak maupun televisi, tetap saja mereka tak steril dari jamahan sensor pemerintah.
”Ini bukan tentang perspektif, namun tentang sesuatu yang menggugah rakyat Tiongkok lalu mengatakan, Ya, Itu benar” ujar Xiao Qiang, direktur China Internet Project di University of California, seperti dilansir Agence France Presse dalam Harian Radar Jogja pada Kamis, (22/1).
Namun sensor ketat itu tidak berlaku bagi media Tiongkok berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. China Daily, contohnya, tetap lolos dari sensor pemerintah meski menampilkan keseluruhan teks pidato Obama tanpa kurang satu huruf pun.
Kebebasan bersuara memang masih menjadi problem besar di Tiongkok. Komunisme adalah ideologi yang tak bisa diganggu gugat disana, kendati dalam praktik sehari-hari, Tiongkok juga memeluk erat kapitalisme. (Radar Jogja, 22/1)
Tuesday, September 16, 2008
Agitasi dan Propaganda
Duncan Hallas 1984
(September 1984)
Sumber: What do we mean by ...?, Socialist Worker Review, No.68, Sep 1968, hlm.10;
Disalin & diberi tanda baca oleh Einde OCallaghan untuk Marxists Internet Archive;
Menurut kamus Oxford, mengagitasi adalah “membangkitkan perhatian (to excite) atau mendorong (stir it up)”, sedangkan propaganda adalah sebuah “rencana sistematis atau gerakan bersama untuk penyebarluasan suatu keyakinan atau doktrin.
Definisi ini bukan merupakan titik pijak yang buruk. Agitasi memfokuskan diri pada sebuah isu aktual, berupaya ‘mendorong’ suatu tindakan terhadap isu tersebut. Propaganda berurusan dengan penjelasan gagasan-gagasan secara terinci dan lebih sistematis.
Seorang marxis perintis di Rusia, Plekhanov, menunjukkan sebuah konsekuensi yang penting dari pembedaan ini. “Seorang propagandis menyajikan banyak gagasan ke satu atau sedikit orang; seorang agitator menyajikan hanya satu atau sedikit gagasan, tetapi menyajikannya ke sejumlah besar orang (a mass of people)”. Seperti semua generalisasi yang seperti itu, pernyataan di atas jangan dipahami secara sangat harfiah. Propaganda, dalam keadaan yang menguntungkan, bisa meraih ribuan atau puluhan ribu orang. Dan ‘sejumlah besar orang’ yang dicapai oleh agitasi jumlahnya sangat tidak tetap. Sekalipun demikian, inti dari pernyataan Plekhanov itu memiliki landasan yang kuat (sound).
Banyak gagasan ke sedikit orang
Lenin, dalam What is to be done, mengembangkan gagasan ini:
Seorang propagandis yang, katakanlah, berurusan dengan persoalan pengangguran, mesti menjelaskan watak kapitalistis dari krisis, sebab dari tak terhindarkannya krisis dalam masyarakat modern, kebutuhan untuk mentransformasikan masyarakat ini menjadi sebuah masyarakat sosialis, dsb. Secara singkat, ia mesti menyajikan “banyak gagasan”, betul-betul sangat banyak, sehingga gagasan itu akan dipahami sebagai suatu keseluruhan yang integral oleh (secara komparatif) sedikit orang. Meskipun demikian, seorang agitator, yang berbicara mengenai persoalan yang sama, akan mengambil sebagai sebuah ilustrasi, kematian anggota keluarga seorang buruh karena kelaparan, peningkatan pemelaratan (impoverishment) dsb., dan penggunaan fakta ini, yang diketahui oleh semua orang, akan mengarahkan upayanya menjadi penyajian sebuah gagasan tunggal ke “massa”. Sebagai akibatnya, seorang propagandis bekerja terutama dengan mamakai bahasa cetak; seorang agitator dengan memakai bahasa lisan.
Mengenai pokok pikiran yang terakhir, Lenin keliru, karena ia terlalu berat-sebelah. Seperti yang ia sendiri nyatakan, sebelum dan sesudah ia menulis pernyataan di atas, sebuah surat kabar revolusioner bisa dan mesti menjadi agitator yang paling efektif. Tetapi ini merupakan masalah sekunder. Hal yang penting adalah bahwa agitasi, apakah secara lisan atau tertulis, tidak berupaya menjelaskan segala sesuatu. Jadi kita menyatakan, dan mesti menyatakan, bahwa para individu buruh tambang yang menggunakan pengadilan kapitalis untuk melawan NUM adalah buruh pengkhianat, bajingan (villains), dipandang dari segi perjuangan sekarang ini; betul-betul terpisah dari argumen umum tentang watak negara kapitalis. Tentu kita akan mengajukan argumen, tetapi kita berupaya ‘membangkitkan perhatian’, ‘mendorong’, ‘membangkitkan rasa tidak senang dan kemarahan’ terhadap pengadilan di sebanyak mungkin buruh. Ini mencakup mereka (mayoritas besar) yang belum menerima gagasan bahwa negara, negara apapun dan pengadilannya, pasti merupakan sebuah instrumen dari kekuasaan kelas.
Atau ambil sebuah contoh lain. Lenin berbicara tentang “ketidakadilan yang amat parah” (crying injustice). Namun, sebagai seorang pengikut Marx yang mendalam, ia betul-betul mengetahui bahwa tidak ada ‘keadilan’ atau ‘ketidakadilan’ yang terlepas dari kepentingan kelas. Di sini, ia menunjuk dan berseru pada kontradiksi antara konsep ‘keadilan’ (‘justice’ or ‘fairness’) yang dipromosikan oleh para ideolog masyarakat kapitalis dengan realitas yang terekspos dalam perjalanan perjuangan kelas. Dan hal itu mutlak benar dari sudut pandang agitasi.
Seorang propagandis, tentu saja, mesti menyelidiki secara lebih mendalam, mesti meneliti konsep keadilan, perkembangan dan transformasinya melalui berbagai masyarakat berkelas yang berbeda, isi kelasnya yang tak terhindarkan. Tetapi hal itu bukan merupakan tujuan utama dari agitasi. Para ‘marxis’ yang tidak memahami pembedaan ini menjadi korban dari ideologi borjuis, menjadi korban dari generalisasi yang lepas dari konteks waktu (timeless generalisations), yang mencerminkan masyarakat berkelas yang diidealisasikan. Yang paling penting, mereka tidak memahami secara konkrit bagaimana sebenarnya sikap kelas buruh berubah. Mereka tidak memahami peran pengalaman, sebagai contoh, pengalaman tentang peran polisi dalam pemogokan para buruh tambang. Mereka tidak memahami perbedaan antara agitasi dan propaganda.
Kedua hal itu penting, sangat diperlukan, tetapi keduanya tidak selalu bisa dikerjakan. Agitasi memerlukan kekuatan yang lebih besar. Tentu saja seorang individu terkadang bisa mengagitasi sebuah keluhan tertentu secara efektif, katakanlah, keluhan mengenai kurangnya sabun atau tissue toilet yang layak di sebuah tempat kerja tertentu, tetapi sebuah agitasi yang luas dengan sebuah fokus yang umum tidaklah mungkin tanpa sejumlah besar orang yang ditugaskan dengan pantas untuk melaksanakannya, tanpa sebuah partai.
Jadi apa pentingnya pembedaan tersebut sekarang ini? Untuk sebagian besar, para sosialis di Inggris tidak berbicara ke ribuan atau puluhan ribu orang. Kita sedang berbicara ke sejumlah kecil orang, biasanya berupaya meyakinkan mereka (to win them) melalui politik sosialis yang umum, dan bukan melalui agitasi massa. Jadi apa yang kita usulkan (arguing) pada dasarnya adalah propaganda. Tetapi di sinilah kebingungan muncul. Karena terdapat lebih dari satu jenis propaganda. Ada sebuah pembedaan antara propaganda abstrak dan jenis propaganda yang diharapkan dapat mengarah ke suatu aktivitas, yaitu propaganda yang konkrit atau realistik.
Propaganda abstrak memunculkan gagasan yang secara formal benar, tetapi tidak terkait dengan perjuangan atau dengan tingkat kesadaran yang ada di antara mereka yang menjadi sasaran dari penyebaran gagasan itu. Sebagai contoh, menyatakan bahwa di bawah sosialisme sistem upah akan dihapuskan adalah mutlak benar, menempatkan usulan yang seperti itu kepada para buruh sekarang ini bukanlah agitasi, melainkan propaganda dalam bentuk yang paling abstrak. Begitu pula, usulan terus-menerus (constant demand) untuk sebuah pemogokan umum, terlepas dari apakah prospek untuk melakukannya bersifat riil dalam situasi yang sekarang, mengarah tidak ke agitasi, melainkan ke penarikan diri (abstaining) dari perjuangan yang riil di sini dan sekarang.
Di sisi lain, propaganda realistis berpijak dari asumsi bahwa kelompok-kelompok sosialis yang kecil tidak dapat secara meyakinkan mempengaruhi kelompok-kelompok buruh yang besar sekarang ini di hampir setiap keadaan. Tetapi hal itu juga mengasumsikan bahwa terdapat argumen tentang isu-isu spesifik, yang dapat dicoba untuk dibangun oleh para sosialis. Jadi seorang propagandis realistis di sebuah pabrik tidak akan mengusulkan penghapusan sistem upah. Ia (laki-laki atau perempuan) akan mengusulkan serangkaian tuntutan yang diharapkan dapat mengarahkan perjuangan ke kemenangan, dan sudah tentu melebihi kemenangan kecil (tokens) yang diberikan oleh bikorasi serikat buruh. Jadi mereka akan mengusulkan, misalnya, peningkatan ongkos rata-rata setiap produk (a flat rate increase), pemogokan mati-matian dengan tuntutan penuh (the full claim, all out...strike) dan bukan pemogokan yang selektif, dsb.
Menyeimbangkan agitasi dengan propaganda secara benar (Getting the balance right)
Semua ini bukanlah agitasi dalam arti yang dibicarakan oleh Lenin, hal itu adalah satu atau dua orang sosialis yang memunculkan serangkaian gagasan tentang bagaimana untuk menang. Tetapi hal itu juga bukan propaganda abstrak karena hal itu terkait dengan sebuah perjuangan yang riil dan karenanya bisa terkait dengan minoritas buruh yang cukup besar di suatu wilayah. Ini berarti bahwa propaganda realistis dapat membangun hubungan (strike a chord) dengan sekelompok orang yang jauh lebih besar daripada mereka yang sepenuhnya terbuka untuk gagasan-gagasan sosialis. Bahwa sekarang ini hanya sekelompok orang yang sangat kecil yang akan terbuka untuk semua gagasan-gagasan sosialisme. Kelompok yang lebih besar tidak akan seperti itu, tetapi masih bisa menerima banyak propaganda dari kaum sosialis untuk tidak mempercayai para pejabat, untuk mengorganisir di lapisan bawah (the rank and file) dan sebagainya.
Pentingnya pembedaan ini ada dua (twofold). Para sosialis yang mempercayai bahwa mereka harus melakukan propaganda di kelompok-kelompok diskusi mereka yang kecil, dan mengagitasi di tempat kerja mereka, sangat mungkin menaksir terlalu tinggi (overestimate) pengaruh mereka di sejumlah besar buruh dan dengan demikian kehilangan kesempatan untuk membangun basis di sekitar sejumlah kecil pendukung. Mereka yang percaya bahwa mereka hanya harus melakukan propaganda abstrak dalam diskusi-diskusi mereka dengan para sosialis yang lain dan di tempat kerja mereka bisa mengambil sikap menarik diri ketika perjuangan yang riil benar-benar meletus.
Dengan melakukan propaganda realistis pada sebuah periode di mana agitasi massa secara umum tidak mungkin, kaum sosialis akan jauh lebih mungkin untuk dapat menghindari kedua jebakan tersebut.
Aib Kepahlawanan
Disekeliling kita banyak orang-orang seperti itu. Mungkin juga saya atau anda. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui bahwa mereka menyimpan kehebatan yang dahsyat, atau mungkin mereka merasakannya, tetapi tidak berminat memunculkannya, atau mungkin berminat, tetapi kalah dengan godaan untuk menjadi “orang biasa”. Sebab, menjadi orang biasa membuat hidup lebih santai, relatif tanpa beban, tanpa sorotan, tanpa stres, tanpa depresi.
Menjadi orang biasa adalah godaan bagi para pahlawan. Inilah yang membuat mata air kecermelangan di dalam dirinya hanya keluar dan kemudian tergenang. Dan dimana pun ada genangan air, disitu selalu ada kemungkinan pembusukan. Air itu tidak menggelombang, maka tidak ada debur kehebatan di dalam dirinya. Air itu tergenang teduh, dan dalam keteduhannya ia tersedot oleh cahaya matahari kehidupan, maka ia mengering dan habis. Atau ia terkotori oleh sampah yang terbuang dalam genangan itu, maka ia mengeruh dan kemudian membusuk.
Para pahlawan adalah sungai yang mengalir deras, atau air yang menggelombang dahsyat. Semua potensi di dalam dirinya keluar satu demi satu, semua kehebatan dirinya menggelora kepermukaan bagai gelombang, semua bakat dalam dirinya bertiup kencang bagai badai. Ia menantang kehidupan, maka ia mengukir sejarah, sebab sejarah adalah catatan petualangan hidup. Ia mengejar dan menangkap takdir, maka ia mendapatkan mahkota kepahlawanan. Sebab, mahkota itu tidak pernah dihadiahkan, ia diperoleh karena ia direbut. Sebagaimana kemerdekaan adalah piala yang direbut oleh bangsa-bangsa yang terjajah, Seperti itulah kepahlawanan menjadi mahkota yang dinobatkan kepada para pengejarnya.
Karena itulah, kepahlawanan senantiasa menjadi beban yang berat bagi jiwa manusia. Karena itulah, tidak banyak manusia yang menempuh jalan panjang kepahlawanan. Jika pun ada diantara mereka yang bersedia, mungkin dia tidak akan bertahan lama. Lalu berhenti, dan menerima hidupnya yang mungkin hanya ala kadarnya.
Itulah sebabnya mengapa pahlawan selalu sedikit. Bukan karena tidak banyak yang bisa menjadi pahlawan. Itu lebih karena orang-orang yang berbakat itu tidak mau dan tidak bersedia memenuhi syarat-syarat kepahlawanan. Itulah yang membuat para pahlawan selalu “menderita”, karena beban hidup yang banyak itu akhirnya hanya dipikul oleh sedikit orang. Hidup ini seringkali tampak tidak adil dalam pandangan ini, karena ia mendistribusi beban-bebannya tidak merata.
Dulu, Abu Tammam, sang penyair hikmah dari tanah arab, pernah berkata, “ Tidak ada aib yang kutemukan dalam diri manusia, melebihi aib orang-orang yang sanggup menjadi sempurna, namun tidak mau menjadi sempurna.”
Diambil dari “ Mencari Pahlawan Indonesia “ Karangan M.Anis Matta


